Monday, April 29, 2013

Berubah

Perubahan itu terkadang menakutkan.

Yang membuat takut itu, jika sekelilingmu berubah, sementara dirimu tidak.

Menjadi sesuatu yang statis sedangkan mereka dinamis.

Dan kemudian, terlihat tragis.





Tuesday, January 8, 2013

Diam

Ada saatnya memang harus diam.
Mengabaikan energi positif yg harusnya ada.
Membiarkan energi negatif berkuasa.
Menyerah. Kalah.
Mengakui lemah. Pantas kalah.
Sekadar mengakui bahwa salah.
Lalu, simpan saja semua senyum semangat itu.
Ada hal yg lebih berguna untuk itu.





Sunday, November 4, 2012

Masihkah Kurang?


Namaku Gita. Aku baru saja mulai memikirkan akan menulis apa di blog ku minggu ini. Sudah 3 minggu aku mencoba konsisten menulis di blog. Telah kutentukan, minimal satu kali dalam seminggu.  Lima hari kerja berurusan dengan angka-angka dengan segala rutinitas yang menjemukan buatku sudah cukup. Dua hari libur ini akan kumanfaatkan untuk bercinta dengan kata-kata. Bagiku tidak merugikan sama sekali, toh weekend-ku kini tenang tanpa gangguan. Tak ada lagi jadwal pacaran. Bisa kumanfaatkan sepenuhnya untuk mencari inspirasi untuk menulis apa saja yang ku pikirkan. Dari pada hanya melayang-melayang di pikiran, lebih baik dituliskan, bukan?


Lima kali sudah aku memutari ruang keluarga dan ruang makan yang menyatu tanpa sekat ini. Dengan lebar empat meter dan panjang sembilan meter, sepuluh kali putaran saja bisa langsung membuatku kelaparan. Lapar sudah, mulai menulis pun belum. Bukanlah hari yang produktif. Sudah muncul beberapa ide dalam benakku, tapi aku ingin kali ini berbeda. Apalagi ya kali ini. Lingkar otakku yang pas-pas-an masih saja memikirkan topik tentang mantan yang masih saja hilir mudik dalam pikiran dan juga segala curhatan. Tapi lupakan sejenak tentang ide yang belum kunjung datang, perut ini tidak bisa dikompromikan. Semangkuk sup hangat di dapur telah menanti untuk dimakan.


"Gitaaaaaaaaa! Giiiiiiiiiiiiiitttttttt!"


Dari jendela dapur aku melirik ke pagar. Letak dapur di rumah ku memang terletak di bagian depan, jadi aku bisa langsung mengetahui siapa yang berada di depan pagar. Alih-alih langsung membukakan pagar aku malah melanjutkan menyendokan nasi dan menuangkan sup buatan ibuku ke piring makan sambil berteriak cukup kencang,


"Iyaaaaaaaa, ommmmm bentaaaaaaaaaaaaaarrrrrrr."


Om? Iya, om. Adik laki-laki dari ibuku. Sebutan 'om' atau 'omm' setahuku berasal dari bahasa Belanda yang artinya paman. Om yang seperti itu maksudku. Oke baiklah, lebih baik kali ini aku menggunakan kata ganti 'paman' yang lebih aman. Demi menghentikan pikiran kalian yang macam-macam.


Aku beranjak ke teras dan mengamati langit yang masih betah saja dengan wajah kelabu sejak tadi pagi. Huh, mendung lagi. Tanganku dengan sigap membukakan gembok pagar dan menyilakan pamanku untuk segera masuk. Kemudian kembali ku raih piring makanku.

"Makan, paman?"

"Nanti. Masih kenyang."

Usia pamanku terbilang tidak lagi muda. Awal 40-an. Berperawakan sedang dengan berat badan yang lumayan. Aku bisa bilang pamanku ini cukup tampan. Hidung mancung, kulit putih, dengan sedikit cambang dan rambut halus yang tumbuh di muka. Singkatnya, bayangkan saja Ridho Rhoma dua puluh tahun dari sekarang. Ku rasa tak ada bedanya.

"Kamu gak kemana-mana, Git?"

"Engga."

"Gak pacaran?"

"Engga."

"Gak punya pacar?"

"Engga."

"Orang cakep sekarang susah nyari jodoh, ya."


Aku tersenyum.


Tepat tiga bulan lalu pamanku gagal menikah dengan gadis pilihannya. Mungkin tak ada bedanya seperti anak muda di luar sana yang  mendadak labil ketika putus cinta, pamanku sekarang mungkin sedang melewati tahapan galau juga sepertinya. Wirausahawan yang cukup sukses dengan tampang lumayan dan rajin mengaji ternyata belum bisa juga menjadi jaminan mendapatkan jodoh pilihan.


"Paman kemarin lihat, alat bantu pendengaran harganya kurang lebih Rp 14 juta."

"Ih, mahal!"


Benar, memang tidak ada satu pun yang sempurna di dunia. Aku menyuapkan sendokan terakhir kuah sup buatan ibuku yang paling ku suka. Hmm, kali ini sup-nya terlalu asin. Pamanku melanjutkan pembicaraan tentang usaha warung makannya yang mengalami peningkatan setiap bulannya, motivasinya untuk segera naik haji dan juga segera berkeluarga, juga tentang kekhawatirannya tentang alat bantu pendengaran yang kemarin sempat ia konsultasikan dengan dokter.


"Kamu kalau kelamaan pakai headset telinganya sakit, tidak?"

"Iya lah, paman. Sakit."

"Nah itu. Paman takut kalau alatnya ditanam dan permanen. Mungkin sebaiknya lanjutkan terapi pendengaran saja."


Aku termenung. Kalau mau dikumpulkan, banyak dari hidup ini yang bisa kita keluhkan. Tentang apa saja. Tentang pekerjaan yang kadang menjemukan, tentang hilangnya jadwal pacaran, tentang cuaca yang tiba-tiba mendung seharian, tentang rasa sup yang paling ku suka dan ternyata keasinan, tentang cinta yang tak bisa dipaksakan. Terkadang kita lebih fokus pada kekurangan dan lupa dengan segala kelebihan.


Refleks aku berdiri mendekati cermin di lemari pajang yang menjadi sekat antara ruang tamu dan ruang makan rumahku. Ku lihat sesosok manusia di dalamnya. Seorang wanita usia 22 tahun dengan status pegawai swasta perbankan dengan kehidupannya yang luar biasa. Ya, kita semua luar biasa dengan segala kehidupan yang kita punya. Kalau kamu masih merasa kurang, coba hitung jari tangan dan kaki yang jumlahnya masing-masing tetap sepuluh. Coba rasakan detakan jantung yang berlebihan ketika bertemu gebetan. Coba mainkan olahraga kesukaanmu dengan kedua tangan dan kaki yang berlarian riang. Coba dengarkan musik kesukaanmu yang mengalun kencang. Coba lihat betapa indah alam sekitar yang bisa kita saksikan. Kalau kamu rasa masih ada yang kurang, coba tarik nafas dalam-dalam dan hembuskan. Masih bisa bernafas?


Masihkah ada yang kurang?


Piring makanku kini telah bersih dan perutku telah kenyang. Satu hal yang ku sadari sekarang, ternyata kita semua punya 'Mario Teguh versi sendiri' yang bisa membuat kita termotivasi. Hal sederhana yang sebenarnya kita tahu, tapi entah sering terlupakan.

Laptop biru-ku yang tercinta kini sudah berada di pangkuan. Menu tampilan Google Chrome dengan tema Benny & Mice kembali menyambutku dengan warna oranye yang cerah ceria. Lembar web www.blogger.com telah terbuka.


"Gita, paman pulang dulu ya."

"Bentar, paman."

Ku ketikkan space kosong di lembar halaman atas di sebelah tulisan 'Post'. Ku arahkan mouse ke tombol oranye di sebelahnya.


Publish? Yes.




Saturday, October 27, 2012

Sebuah Cinta Kemarin Dulu

Untuk sebuah cinta kemarin dulu
Sebuah rasa tak terkalahkan
Aku dan kamu melebur menjadi satu
Menjadi kita yang tak terpisahkan


Untuk sebuah cinta kemarin dulu
Sebuah perjuangan yang tak terpikir akan berujung
Karena berjuang bersamamu adalah candu
Caraku bertahan tanpa pundung


Untuk sebuah cinta kemarin dulu
Saat rindu kian bertaut
Namun realita kadang kusut
Selain meratap dan berharap, tak ada lagi yang kita tunggu


Untuk sebuah cinta kemarin dulu
Kadang aku menggerutu
Kenyataan ini memang tak semanis madu
Begitu sakit seperti teriris sembilu
Begitu pahit karena ada saja yang mengganggu


Untuk sebuah... Ah sudahlah.
Cinta itu tak lagi ada. Tak lagi nyata.
Berubah menjadi perih yang menjelma dalam sebuah nama.
Kenangan, begitu ia disapa.
Aku tak begitu mengenalnya.
Entah mengapa sekarang ia menggerayangiku dalam berbagai suasana.


Kenangan, sebaiknya kau pergi dalam setiap bayang-bayang.
Aku perlu lepas darimu dan tertawa dalam senjang.
Pergilah dengannya dan buat ia kejang.
Biarkan dia merasa bagaimana saat rindu menyelinap datang.
Dan izinkan aku bertepuk tangan dan berteriak, "Rasakan itu, jalang!"


Untuk sebuah cinta kemarin dulu
Kini akan ku kembalikan
Separuh hati yang dulu kau pinjamkan
Kurelakan padanya yang lebih membutuhkan


Tak usah pedulikan aku
Bila seorang manusia bisa bertahan dengan ginjal yang hanya satu
Begitu pula aku bertahan dengan separuh hati yang beku


Biarkan aku mencari,
pendonor yang merelakan separuh hatinya menghuni di sini




Friday, October 26, 2012

Alfa Kilo Uniform Sierra Uniform Kilo Alfa

Bagaimana cara menjelaskannya.
Aku suka saat kau mengucapkan namaku dengan...


"Maaf, Romeo Alfa Delta India Tango Yankee Alfa?"


Kamu tahu?
Aku tak peduli dengan suaramu yang berbeda tiap aku menghubungimu.

Kadang aku merasa suaramu terlalu nyaring, kadang terlalu lembut. Kadang begitu mendayu, kadang agak serak. Saranku, kau perlu mengurangi mengonsumsi gorengan. Kamu tahu itu tidak baik untuk suaramu, kan?

Tapi aku selalu suka irama saat kamu berbicara. Intonasi bicaramu selalu membuatku terkagum-kagum. Mungkin kau perlu pertimbangkan, penyiar radio atau pembaca berita sebagai sampingan?

Aku selalu suka. Meskipun kamu cerewet dan selalu menasehatiku dengan banyak cara. Aku harus begini, aku harus begitu.

Ya ya ya. Kamu selalu punya banyak solusi untuk masalah-masalahku.

Kamu, penyelamatku.

Umm.. Bisakah kau menyebut namaku sekali lagi? Aku suka mendengarnya.


"Baik, Pak Raditya. Keluhan bapak sudah kami catat dan segera kami proses. Mohon maaf sebelumnya, kami akan selalu berusaha meningkatkan kualitas pelayanan kami. Ada lagi yang bisa saya bantu, Pak Raditya?"

"Tidak.... Mas. Terima kasih."


Damn! Kenapa customer care-nya kali ini laki-laki?