I have to admit that I don't have a good verbal comunication skills.
Lucunya, pekerjaan saya saat ini menuntut saya untuk menguasai ilmu berkomunikasi yang sangat baik. Lebih jauh, tidak hanya berkomunikasi, saya pun harus dapat menganalisis karakter seseorang, menggali informasi lebih dalam, memengaruhi, membina hubungan baik, namun tetap menerapkan prinsip kehati-hatian.
Terdengar rumit, ya?
Hehe, ngga juga. Sepertinya hampir seluruh industri saat ini menganut prinsip demikian, terlebih dalam bidang jasa seperti perbankan.
Bukan, saya bukan ingin membahas mengenai perbankan atau perekonomian saat ini.
Poinnya adalah walaupun kemampuan berkomunikasi saya semakin meningkat, khususnya dalam bidang pekerjaan yang saya geluti, saya tetap merasa kesulitan untuk mengungkapkan perasaan, ide, atau pemikiran secara verbal.
Ya, pada dasarnya saya dulu sangat pemalu, yang seiring waktu kian berubah menjadi malu-maluin. :(
Tapi jauh di lubuk hati, saya tetap memiliki jiwa introvert yang kadang muncul pada saat tertentu.
Yes, i am an extrovert introvert at the same time.
Saya lebih mudah mengutarakan maksud, pemikiran, dan perasaan lewat tulisan. Lebih mudah, lancar, luwes, serta jujur. Eh, bukan berarti secara verbal tidak jujur ya. Tapi kemampuan saya mengutarakan, mendeskripsikan, menjelaskan maksud via tulisan jauh lebih baik dibanding mengutarakan langsung.
Jadi, tidak semua orang bisa memahami karakter saya yang (menurut saya) unik ini. Tapi ternyata ada loh. Hebat ya. Jadi terharu. :')
Dear, i know that we know we are struggling this time to reach our goal for our plan. I understand and realize that it's not easy and takes time. I fully understand and I hope others too.
Semoga kita selalu dalam keberkahan, ridho, dan lindungan Allah, istiqomah dalam berhasanah, diberi kemampuan, kekuatan, dan kemudahan untuk mencapai tujuan.
Aamiin.
That's all and i love you, Fajar.
Saturday, December 12, 2015
Saturday, April 25, 2015
Grateful
We always search many way to complain about life.
But we always have more reason to be grateful.
Happy saturday!
But we always have more reason to be grateful.
Happy saturday!
Saturday, October 25, 2014
Mungkin Saja (Cinta)
Sometime hidup itu life, kata @komikazer di Instagram.
Tapi saat ini saya tidak akan membicarakan tentang komik atau instagram. Kali ini, mari kita berbicara tentang hal yang serius. Let's talk about love.
Iya, masalah cinta ini emang masalah serius. Emang kamu ga mau diseriusin?
Eh kamu yang disebelah kiri, jangan tiba-tiba inget mantan dulu ya. We remain on the topic above. Kita akan memasuki zona bebas mantan. Sorry to say, guys.
Selama ini saya penasaran tentang sampai seberapakah seseorang merasa cukup dalam kemungkinan untuk bertemu dan menemukan partner untuk melanjutkan hidup. Yes, i know. Manusia tidak akan merasa cukup dan puas. Tapi tentu akan berada dalam satu titik untuk bertemu dengan orang yang tepat yang kamu yakin akan melanjutkan hidup bersamanya. Saya sering bertanya hal ini dengan teman yang sudah menikah, and yes, jawabannya pasti berbeda-beda dan tidak bisa saya simpulkan. Sebenarnya sih saya sudah tahu jawabannya. Pertanyaan ini akan terjawab kalau sudah pernah merasakan dan menjalaninya, yaitu dengan menikah.
Berhubung saya belum pernah, saya tetap penasaran tentu saja.
Menurut saya, tanpa disadari atau tidak kita memilih kepada siapa kita akan jatuh cinta. Maksud saya, kita sendiri yang memutuskan untuk 'jatuh' atau tidak. Ketika akhirnya kita mencintai seseorang yang mungkin sebelumnya tidak kita 'kira', berarti telah terjadi penerimaan yang memutuskan untuk memilih 'jatuh'.
Sampai suatu ketika, i need to know how to define whether i'm in love or not. Kriteria pertama, biasanya saya mendefinisikan cinta sebagai keberadaan kupu-kupu yang berada dalam perut (butterfly in your stomach, know about that phrase?) saat saya berinteraksi dengan seseorang. Sesimpel itu. Jika saya tidak merasakan itu, i can easily define that i'm not in love. Namun belakangan, ternyata keyakinan itu tidak selamanya benar. I think, butterfly in stomach menunjukkan bahwa kita memiliki ketertarikan terhadap orang tersebut, walau dapat menjadi salah satu indikator namun tidak semuanya dapat dikategorikan sebagai cinta. Ketertarikan itu dapat bermacam-macam, bisa secara fisik, personality, kesamaan hobi, dan lain sebagainya. Atau mungkin, bisa saja itu bukan kupu-kupu, mungkin sulit membedakan dengan mules atau lapar? Siapa tahu.
Kriteria kedua (i tried to make it sound a bit scientific discussion) adalah rasa nyaman. Tidak, kita tidak sedang membicarakan sofa atau kasur yang bisa membuat kita nyaman (by the way, udah pada ke IKEA Alam Sutera, guys? #kode). Selain sofa atau kasur, orang yang tepat juga bisa membuat kita merasa nyaman. Ini sulit dijabarkan sebenarnya, hanya dapat dirasakan. Biasanya kenyamanan dapat dikaitkan dengan kecocokan dalam pemikiran atau percakapan, kesamaan pandangan tentang suatu/banyak hal, dan keyakinan akan rasa aman yang diharapkan pada seseorang. Tetapi rasa nyaman juga bisa kita rasakan pada teman atau sahabat (selain keluarga tentunya). Jadi meskipun merupakan faktor penting, namun bukanlah faktor penentu.
Kriteria ketiga, kesamaan sense of humor. Adakah yang juga mempertimbangkan hal ini selain saya? To find someone who laughs at the same things you do.
Mengambil kutipan om Piring @newsplatter on his account at ask.fm (@manampiring) pentingnya sense of humor dalam memilih pasangan ini penting namun tidak sering dibahas. Akan tetapi menurut @newsplatter lagi menanggapi pertanyaan, "If you and your wife have different taste of humour, how can be both of you fit together?" and his answer is "Because a relationship is more than just a comedy show?".
Ribet ya. Yah namanya juga pemikiran yang disalurkan dalam tulisan. Aslinya mah lebih ribet dari ini. Tapi ini kan cuma teori asal yang saya buat sendiri. Kenyataannya mungkin lebih simpel, atau jauh lebih rumit. Pusing lah. Lebih baik kita saling mencari dan menemukan.
Bukan begitu, Pak?
Saturday, October 19, 2013
English, please?
It's quite funny to remember that i ever had writing this blog in english. You may think where does the funny thing is. Couple years ago when i'm still in diploma college, i got the second higher for TOEFL score for graduation (as i remember). :p and it's been two years from my graduation, my english is getting worse. :(
I've try to make a post in english but it's quite hard now. And as you may have noticed, you may find a lot of mistakes in the writing in this post.
CMIIW, yes? ;;)
Saturday, September 21, 2013
Ada banyak tempat untuk merayakan kebahagiaan
Ada banyak kepala untuk bertukar pikiran
Ada banyak telinga untuk berbagi keresahan
Ada begitu banyak pilihan
Mungkin kita bukan satu-satunya
Mungkin kita, memang tak sempurna
Jika tak ada lagi pilihan yang bisa kau pilih
Kepala, telinga, dan hati kami siap menemani
Pun tidak terpilih
Coba ingat-ingat, masih ada kami di sini.
Ada banyak kepala untuk bertukar pikiran
Ada banyak telinga untuk berbagi keresahan
Ada begitu banyak pilihan
Mungkin kita bukan satu-satunya
Mungkin kita, memang tak sempurna
Jika tak ada lagi pilihan yang bisa kau pilih
Kepala, telinga, dan hati kami siap menemani
Pun tidak terpilih
Coba ingat-ingat, masih ada kami di sini.
Monday, June 24, 2013
This is Home
Hei kamu, apa kabar? Baik? Alhamdulillah.
Kabar saya? Alhamdulillah luar biasa. Saya
masih Firda dengan tugas rauwis-uwis yang membelenggu, yang slogannya seperti
lagu nasionalis, 'gugur satu tumbuh seribu'.
Oke, mari lupakan tugas sejenak.
There's maaanyyyy things I wanna share in here.
Let's say, mungkin ini sejenis
curhat. Walaupun agak menggelikan sih. "Kok curhat di blog? Nanti ketauan
dong." Nah itu dia, menurut saya menulis personal
life di blog itu semacam guilty pleasure. Semangat nulis
berbekal keyakinan, "Ah, paling gak ada yang baca". Dan kemudian
setelah posting ada yang komentar, "Oooo my God kenapa
ada yang bacaaaa siiihhh kan maluuuu.". Aneh memang, kalau gak pengen ada
yang tau kenapa dipublish di blog. Hahaha.
Tetapi walaupun begitu, saya tetap setia dengan
blog ini. Dari pertama kali saya mengenal blogging dari 'Kambing Jantan'nya Raditya Dika
dan memutuskan untuk membuat blog sendiri sampai dengan sekarang, saya tidak
berpikir untuk beralih hati membuat akun lain entah di wordpress, Tumblr, atau
sejenisnya. Alasannya cuma satu, biarkan semuanya terdokumentasi di sini. Dari
masa-masa alay ketika SMA, kuliah, jobseeker hingga sekarang sudah bekerja. Jadi
jika nanti suatu saat saya lupa ingatan, ketika membaca blog ini saya akan
tersenyum dan menggumam, "Ah ya, been
there done that.". :')
Menyenangkan jika mengingat kembali masa-masa
tersebut, bagaimana saya menemukan 'keluarga' yang tidak pernah saya duga
sebelumnya.
Posting saya yang berjudul "A Home Away From Home",
merupakan tulisan perpisahan saya dengan rekan-rekan di tempat bekerja
sebelumnya, tempat saya menemukan rumah dan keluarga dan juga kekhawatiran saya
memasuki lingkungan baru, yaitu tempat saya bekerja saat ini.
Kemudian bagaimana kelanjutannya?
Hehe. Saya menyadari, ternyata adaptasi itu hanya masalah waktu. Menyenangkan atau tidaknya suatu tempat atau lingkungan pun kembali pada diri kita sendiri. Di sini, saya kembali masuk dalam sebuah keluarga, tepatnya keluarga besar. Cukup besar untuk saya yang di rumah hanya memiliki tiga orang anggota keluarga inti.
Untungnya, saya tidak sendiri. Ada enam orang tidak beruntung lainnya
yang memiliki nasib yang sama dengan saya. Kemudian kami bertujuh bersatu,
menyamakan tekad, menyatukan kekuatan, membuat kostum, membentuk girl
and boy band lalu menguasai
dunia. Hahahahahahahahahahaha~
Oke, itu berlebihan.
Nasib kami dipersatukan oleh kesamaan hak dan
tanggung jawab yang berlabel Trainee selama satu tahun. Banyaknya
kegiatan yang kami lakukan bersama membuat kami memiliki kedekatan lebih dan
kemudian mendeklarasikan diri sebagai Geng, yang
nantinya akan menguasai dunia.
Hmm... Saya tidak tahu apakah saya saja ataukah
mereka juga merasakan hal yang sama atau tidak. Yang jelas, I feel
blessed to have their in my life. :')
Walau kadang muncul beberapa pemikiran possesif
mengganggu tentang keberlangsungan Geng jika salah satu, dua, tiga, empat,
lima, enam, tujuh, dari kita berkeluarga dan memiliki 'hati-hati' yang harus
dijaga. Hehehe.
Geng masih bisa eksis gak ya?
Tentu bisa. Jadi nanti anak-anak kita
temenan, satu sekolah, satu geng juga, dan kemudian apaaaaah? (((menguasai
dunia, yeah!)))
*
Wherever you feel peacefulness, you might call
it home.
And, yes. This is home.
And, yes. This is home.
Bersama mereka, saya bukan hanya sekadar
menemukan rumah dan keluarga, lebih dari itu.
Bersama mereka, saya merasa pulang.
Saturday, June 15, 2013
Prioritas (?)
Semakin bertambah usia seseorang semestinya makin mengetahui dan pandai menyusun skala prioritas, baik dalam pekerjaan juga kehidupan sehari-hari. Kegiatan mana yang harus dikerjakan, mana yang harus didahulukan, mana yang harus ditinggalkan. Seharusnya seperti itu sih ya. Tetapi rasanya semakin lama semakin sulit saja membuat skala prioritas sehari-hari. Apalagi semenjak saya menjalani dua peran, sebagai pekerja sekaligus mahasiswa. Saya melanjutkan pendidikan ekstensi dan memilih kelas Sabtu-Minggu, dengan pertimbangan lebih efektif dibanding kelas malam setelah pulang kerja. Dengan konsekuensi, tidak ada hari libur dalam tujuh hari setiap minggunya. Kecuali tanggal merah, tentu saja.
Saya menikmati sekali proses belajar kembali menjadi pelajar. Bertemu dengan ragam manusia dengan karakter berbeda. Berbagai cara komunikasi yang dilakukan tiap dosen untuk menyampaikan mata kuliah bimbingannya. Menyenangkan awalnya, bertemu dengan teman-teman baru. Kemudian mengerikan, ketika tugas-tugas kuliah yang diberikan menumpuk dan entah akan dikerjakan kapan namun besok harus dikumpulkan.
Saya bukan orang yang terstruktur, mungkin lebih cenderung spontaneous. Tapi saya akui, sesuatu yang terjadwal dan terencana memang lebih baik. Sebelum memutuskan untuk melanjutkan kuliah, kegiatan saya terfokus dengan pekerjaan. Senin-Jumat. From 8 to 5. Sabtu-Minggu waktu untuk istirahat, keluarga, dan teman-teman. Kembali ke Senin, kembali seperti itu dan begitu seterusnya. Secara tidak sadar menjadi terstruktur tiap harinya. Bagun tidur pukul 5, berangkat kantor 06.30, sampai kantor pukul 7. Tak ada banyak perubahan.
Kemudian semua itu berubah ketika saya melanjutkan kuliah. Senin-Jumat kerja, Sabtu-Minggu kuliah. Kemudian kembali lagi ke Senin. Kerja lagi, dan tugas belum dikerjakan. Selasa-Rabu-Kamis-Jumat terus bekerja. Sabtu dan Minggu lanjut kuliah. Senin kembali, kemudian telat masuk kantor dan tugas (masih) belum dikerjakan.
Berubahnya jam tidur, bertambahnya aktifitas, dan berkurangnya waktu istirahat. Semua itu tentunya faktor-faktor yang seharusnya cukup untuk membuat saya menggunakan skala prioritas dalam tiap kegiatan saya. Contohnya seperti, mengerjakan tugas e-learning dan menyiapkan materi presentasi dibanding mem-posting blog post malam ini.
Sekian dan terima kasih.
Monday, April 29, 2013
Berubah
Perubahan itu terkadang menakutkan.
Yang membuat takut itu, jika sekelilingmu berubah, sementara dirimu tidak.
Menjadi sesuatu yang statis sedangkan mereka dinamis.
Dan kemudian, terlihat tragis.
Yang membuat takut itu, jika sekelilingmu berubah, sementara dirimu tidak.
Menjadi sesuatu yang statis sedangkan mereka dinamis.
Dan kemudian, terlihat tragis.
Tuesday, January 8, 2013
Diam
Ada saatnya memang harus diam.
Mengabaikan energi positif yg harusnya ada.
Membiarkan energi negatif berkuasa.
Menyerah. Kalah.
Mengakui lemah. Pantas kalah.
Sekadar mengakui bahwa salah.
Lalu, simpan saja semua senyum semangat itu.
Ada hal yg lebih berguna untuk itu.
Mengabaikan energi positif yg harusnya ada.
Membiarkan energi negatif berkuasa.
Menyerah. Kalah.
Mengakui lemah. Pantas kalah.
Sekadar mengakui bahwa salah.
Lalu, simpan saja semua senyum semangat itu.
Ada hal yg lebih berguna untuk itu.
Sunday, November 4, 2012
Masihkah Kurang?
Namaku Gita. Aku baru
saja mulai memikirkan akan menulis apa di blog ku minggu ini. Sudah 3 minggu
aku mencoba konsisten menulis di blog. Telah kutentukan, minimal satu kali
dalam seminggu. Lima hari kerja berurusan dengan angka-angka dengan segala rutinitas yang menjemukan buatku sudah cukup. Dua hari libur ini akan kumanfaatkan untuk bercinta dengan kata-kata. Bagiku tidak merugikan sama sekali, toh weekend-ku kini tenang tanpa gangguan. Tak ada lagi jadwal pacaran. Bisa kumanfaatkan sepenuhnya
untuk mencari inspirasi untuk menulis apa saja yang ku pikirkan. Dari pada
hanya melayang-melayang di pikiran, lebih baik dituliskan, bukan?
Lima kali sudah aku
memutari ruang keluarga dan ruang makan yang menyatu tanpa sekat ini. Dengan
lebar empat meter dan panjang sembilan meter, sepuluh kali putaran saja bisa
langsung membuatku kelaparan. Lapar sudah, mulai menulis pun belum. Bukanlah
hari yang produktif. Sudah muncul beberapa ide dalam benakku, tapi aku ingin kali ini berbeda. Apalagi ya kali ini. Lingkar otakku yang pas-pas-an masih saja memikirkan topik tentang mantan yang masih saja hilir mudik dalam pikiran dan juga segala curhatan. Tapi lupakan sejenak tentang ide yang belum kunjung datang,
perut ini tidak bisa dikompromikan. Semangkuk sup hangat di dapur telah menanti untuk dimakan.
"Gitaaaaaaaaa!
Giiiiiiiiiiiiiitttttttt!"
Dari jendela dapur aku
melirik ke pagar. Letak dapur di rumah ku memang terletak di bagian depan, jadi
aku bisa langsung mengetahui siapa yang berada di depan pagar. Alih-alih
langsung membukakan pagar aku malah melanjutkan menyendokan nasi dan menuangkan
sup buatan ibuku ke piring makan sambil berteriak cukup kencang,
"Iyaaaaaaaa, ommmmm
bentaaaaaaaaaaaaaarrrrrrr."
Om? Iya, om. Adik
laki-laki dari ibuku. Sebutan 'om' atau 'omm' setahuku berasal dari bahasa Belanda
yang artinya paman. Om yang seperti itu maksudku. Oke baiklah, lebih baik kali
ini aku menggunakan kata ganti 'paman' yang lebih aman. Demi menghentikan
pikiran kalian yang macam-macam.
Aku beranjak ke teras dan
mengamati langit yang masih betah saja dengan wajah kelabu sejak tadi pagi. Huh, mendung lagi. Tanganku dengan sigap membukakan gembok pagar dan menyilakan pamanku untuk
segera masuk. Kemudian kembali ku raih piring makanku.
"Makan, paman?"
"Nanti. Masih
kenyang."
Usia pamanku terbilang
tidak lagi muda. Awal 40-an. Berperawakan sedang dengan berat badan yang
lumayan. Aku bisa bilang pamanku ini cukup tampan. Hidung mancung, kulit putih, dengan sedikit cambang dan rambut
halus yang tumbuh di muka. Singkatnya, bayangkan saja Ridho Rhoma dua puluh
tahun dari sekarang. Ku rasa tak ada bedanya.
"Kamu gak
kemana-mana, Git?"
"Engga."
"Gak pacaran?"
"Engga."
"Gak punya
pacar?"
"Engga."
"Orang cakep
sekarang susah nyari jodoh, ya."
Aku tersenyum.
Tepat tiga bulan lalu
pamanku gagal menikah dengan gadis
pilihannya. Mungkin tak ada bedanya seperti anak muda di luar sana yang mendadak labil ketika putus cinta, pamanku sekarang mungkin sedang melewati tahapan galau juga sepertinya. Wirausahawan yang cukup sukses dengan tampang lumayan dan rajin mengaji ternyata belum bisa juga menjadi jaminan mendapatkan jodoh pilihan.
"Paman kemarin lihat, alat bantu pendengaran harganya kurang lebih Rp 14 juta."
"Ih, mahal!"
Benar, memang tidak ada satu pun yang sempurna di dunia. Aku menyuapkan sendokan terakhir kuah sup buatan ibuku yang paling ku suka. Hmm, kali ini sup-nya terlalu asin. Pamanku melanjutkan pembicaraan tentang usaha warung makannya yang mengalami peningkatan setiap bulannya, motivasinya untuk segera naik haji dan juga segera berkeluarga, juga tentang kekhawatirannya tentang alat bantu pendengaran yang kemarin sempat ia konsultasikan dengan dokter.
"Kamu kalau kelamaan pakai headset telinganya sakit, tidak?"
"Iya lah, paman. Sakit."
"Nah itu. Paman takut kalau alatnya ditanam dan permanen. Mungkin sebaiknya lanjutkan terapi pendengaran saja."
Aku termenung. Kalau mau dikumpulkan, banyak dari hidup ini yang bisa kita keluhkan. Tentang apa saja. Tentang pekerjaan yang kadang menjemukan, tentang hilangnya jadwal pacaran, tentang cuaca yang tiba-tiba mendung seharian, tentang rasa sup yang paling ku suka dan ternyata keasinan, tentang cinta yang tak bisa dipaksakan. Terkadang kita lebih fokus pada kekurangan dan lupa dengan segala kelebihan.
Refleks aku berdiri mendekati cermin di lemari pajang yang menjadi sekat antara ruang tamu dan ruang makan rumahku. Ku lihat sesosok manusia di dalamnya. Seorang wanita usia 22 tahun dengan status pegawai swasta perbankan dengan kehidupannya yang luar biasa. Ya, kita semua luar biasa dengan segala kehidupan yang kita punya. Kalau kamu masih merasa kurang, coba hitung jari tangan dan kaki yang jumlahnya masing-masing tetap sepuluh. Coba rasakan detakan jantung yang berlebihan ketika bertemu gebetan. Coba mainkan olahraga kesukaanmu dengan kedua tangan dan kaki yang berlarian riang. Coba dengarkan musik kesukaanmu yang mengalun kencang. Coba lihat betapa indah alam sekitar yang bisa kita saksikan. Kalau kamu rasa masih ada yang kurang, coba tarik nafas dalam-dalam dan hembuskan. Masih bisa bernafas?
Masihkah ada yang kurang?
Piring makanku kini telah bersih dan perutku telah kenyang. Satu hal yang ku sadari sekarang, ternyata kita semua punya 'Mario Teguh versi sendiri' yang bisa membuat kita termotivasi. Hal sederhana yang sebenarnya kita tahu, tapi entah sering terlupakan.
Laptop biru-ku yang tercinta kini sudah berada di pangkuan. Menu tampilan Google Chrome dengan tema Benny & Mice kembali menyambutku dengan warna oranye yang cerah ceria. Lembar web www.blogger.com telah terbuka.
"Gita, paman pulang dulu ya."
"Bentar, paman."
Ku ketikkan space kosong di lembar halaman atas di sebelah tulisan 'Post'. Ku arahkan mouse ke tombol oranye di sebelahnya.
Publish? Yes.
Label:
cerpen,
fiksi,
personal life,
random thought
Saturday, October 27, 2012
Sebuah Cinta Kemarin Dulu
Untuk sebuah cinta kemarin dulu
Sebuah rasa tak terkalahkan
Aku dan kamu melebur menjadi satu
Menjadi kita yang tak terpisahkan
Untuk sebuah cinta kemarin dulu
Sebuah perjuangan yang tak terpikir akan berujung
Karena berjuang bersamamu adalah candu
Caraku bertahan tanpa pundung
Untuk sebuah cinta kemarin dulu
Saat rindu kian bertaut
Namun realita kadang kusut
Selain meratap dan berharap, tak ada lagi yang kita tunggu
Untuk sebuah cinta kemarin dulu
Kadang aku menggerutu
Kenyataan ini memang tak semanis madu
Begitu sakit seperti teriris sembilu
Begitu pahit karena ada saja yang mengganggu
Untuk sebuah... Ah sudahlah.
Cinta itu tak lagi ada. Tak lagi nyata.
Berubah menjadi perih yang menjelma dalam sebuah nama.
Kenangan, begitu ia disapa.
Aku tak begitu mengenalnya.
Entah mengapa sekarang ia menggerayangiku dalam berbagai suasana.
Kenangan, sebaiknya kau pergi dalam setiap bayang-bayang.
Aku perlu lepas darimu dan tertawa dalam senjang.
Pergilah dengannya dan buat ia kejang.
Biarkan dia merasa bagaimana saat rindu menyelinap datang.
Dan izinkan aku bertepuk tangan dan berteriak, "Rasakan itu, jalang!"
Untuk sebuah cinta kemarin dulu
Kini akan ku kembalikan
Separuh hati yang dulu kau pinjamkan
Kurelakan padanya yang lebih membutuhkan
Tak usah pedulikan aku
Bila seorang manusia bisa bertahan dengan ginjal yang hanya satu
Begitu pula aku bertahan dengan separuh hati yang beku
Biarkan aku mencari,
pendonor yang merelakan separuh hatinya menghuni di sini
Sebuah rasa tak terkalahkan
Aku dan kamu melebur menjadi satu
Menjadi kita yang tak terpisahkan
Untuk sebuah cinta kemarin dulu
Sebuah perjuangan yang tak terpikir akan berujung
Karena berjuang bersamamu adalah candu
Caraku bertahan tanpa pundung
Untuk sebuah cinta kemarin dulu
Saat rindu kian bertaut
Namun realita kadang kusut
Selain meratap dan berharap, tak ada lagi yang kita tunggu
Untuk sebuah cinta kemarin dulu
Kadang aku menggerutu
Kenyataan ini memang tak semanis madu
Begitu sakit seperti teriris sembilu
Begitu pahit karena ada saja yang mengganggu
Untuk sebuah... Ah sudahlah.
Cinta itu tak lagi ada. Tak lagi nyata.
Berubah menjadi perih yang menjelma dalam sebuah nama.
Kenangan, begitu ia disapa.
Aku tak begitu mengenalnya.
Entah mengapa sekarang ia menggerayangiku dalam berbagai suasana.
Kenangan, sebaiknya kau pergi dalam setiap bayang-bayang.
Aku perlu lepas darimu dan tertawa dalam senjang.
Pergilah dengannya dan buat ia kejang.
Biarkan dia merasa bagaimana saat rindu menyelinap datang.
Dan izinkan aku bertepuk tangan dan berteriak, "Rasakan itu, jalang!"
Untuk sebuah cinta kemarin dulu
Kini akan ku kembalikan
Separuh hati yang dulu kau pinjamkan
Kurelakan padanya yang lebih membutuhkan
Tak usah pedulikan aku
Bila seorang manusia bisa bertahan dengan ginjal yang hanya satu
Begitu pula aku bertahan dengan separuh hati yang beku
Biarkan aku mencari,
pendonor yang merelakan separuh hatinya menghuni di sini
Friday, October 26, 2012
Alfa Kilo Uniform Sierra Uniform Kilo Alfa
Bagaimana cara menjelaskannya.
Aku suka saat kau mengucapkan namaku dengan...
"Maaf, Romeo Alfa Delta India Tango Yankee Alfa?"
Kamu tahu?
Aku tak peduli dengan suaramu yang berbeda tiap aku menghubungimu.
Kadang aku merasa suaramu terlalu nyaring, kadang terlalu lembut. Kadang begitu mendayu, kadang agak serak. Saranku, kau perlu mengurangi mengonsumsi gorengan. Kamu tahu itu tidak baik untuk suaramu, kan?
Tapi aku selalu suka irama saat kamu berbicara. Intonasi bicaramu selalu membuatku terkagum-kagum. Mungkin kau perlu pertimbangkan, penyiar radio atau pembaca berita sebagai sampingan?
Aku selalu suka. Meskipun kamu cerewet dan selalu menasehatiku dengan banyak cara. Aku harus begini, aku harus begitu.
Ya ya ya. Kamu selalu punya banyak solusi untuk masalah-masalahku.
Kamu, penyelamatku.
Umm.. Bisakah kau menyebut namaku sekali lagi? Aku suka mendengarnya.
"Baik, Pak Raditya. Keluhan bapak sudah kami catat dan segera kami proses. Mohon maaf sebelumnya, kami akan selalu berusaha meningkatkan kualitas pelayanan kami. Ada lagi yang bisa saya bantu, Pak Raditya?"
"Tidak.... Mas. Terima kasih."
Damn! Kenapa customer care-nya kali ini laki-laki?
Sunday, October 21, 2012
A Hug for...
![]() |
| pic from here |
“Aku mau tanya, boleh?”
“Tentang?”
“Malah balik bertanya.”
“Oke. Kamu bebas bertanya apapun. Aku juga bebas mau jawab atau tidak.”
“Ih, curang.”
“Hahaha. Sudah, mau tanya apa tadi?”
“Gimana ya. Nggg.. Kamu kalau pulang bareng dengan teman lelaki dengan motor, biasanya bagaimana?”
“Bagaimana apanya?”
“Maksudku, kamu biasanya pegangan apa agar tidak jatuh?”
“Oh. Paling pegang tas atau pundak. Kenapa memangnya?”
“Hehe. Hanya penasaran.”
“Penasaran sama apa sih?”
“Pengin tahu saja. Saat aku mengantarmu pulang pertama kali, kamu memelukku. Kenapa?”
“Hei. Aku tidak memelukmu saat itu. Hanya pegang pundak. Mungkin maksudmu yang kedua kali.”
“Iya iya. Saat kedua kali. Kenapa kamu peluk aku?”
“Memangnya kamu tidak suka aku peluk?”
“Suka! Tentu saja. Tapi aku ingin tahu kenapa.”
“Soalnya kamu ngebut. Jadi peluk itu untuk alasan keamanan.”
“Cungguh?”
“Kamu kebanyakan twitteran deh, pasti. Denger ya, cuma papa dan pacar yang aku peluk saat di motor. Masa aku peluk-peluk tukang ojek. Hih.”
“Yaiya lah kalau tukang ojek. Teman laki-laki yang lain? Teman kampus, misalnya?”
“Tidak, sayang. Cuma kamu yang aku peluk.”
“Walaupun saat itu kita belum pacaran?”
*
Windows shut down automatically. Please save your setting.
Ah, sial.
Ku tutup laptopku dan kembali kupasangkan softcase-nya. Sudah hampir satu jam aku menghabiskan Caramel macchiato ini sendirian. Ku raih blackberry ku yang sedari tadi berkedip manja.
Iya, iya. Ini dibaca.
Unlock. Yes. Jangan-jangan bbm atau sms dari…
Ih. Salah lihat. Ini warna oranye, bukan merah!
Tidak ada bbm atau sms dari siapa pun. Tak ada broadcast messages test contact, online shopping ataupun berita-berita hoax lain. Pun email atau mention masuk. Menyedihkan.
Menu berbentuk logo blackberry tanpa bintang merah begitu menggoda untuk dipilih. Ku geser ke arah menu itu, dan... Tak ada menu recent update. Aku lupa, menu itu sudah lama ku matikan. Menguntungkan sebenarnya. Menghindari panggilan alam untuk kepo dan tidak perlu repot dengan orang yang berganti display picture atau status berkali-kali dalam sehari. T-e-r-s-e-r-a-h. Coba, deh. Terbukti membuat hidup lebih tentram. Selain itu juga antisipasi-anti-galau kalau tidak sengaja membaca update status atau melihat display picture-mu.
Ah, ya. Kamu sudah men-delete ku dari bbm kan.
Pertanyaanmu itu... Kamu masih penasaran tidak, ya? Kenapa aku memelukmu. Entahlah, yang jelas karena aku ingin.
Atau kalau kamu memaksaku menjawab dengan alasan lain, aku akan jawab. Karena pelukan itu menenangkan. Bisa menimbulkan rasa aman kemudian menghangatkan. Pelukan juga bisa berarti keinginan untuk terus bersatu. Tidak ingin lepas. Tidak bisa lepas. Juga sulit melepaskan.
Tapi kalau kamu yang ingin, aku bisa apa?
*
“Sekar!”
Pundakku ditepuk dari belakang. Akhirnya yang ku tunggu datang juga.
“Ih lama amat sih. Itu mbak-mbak nya udah bolak-balik ke sini tau, nanyain gue mau pesen apa lagi.”
“Aduh maaf. Tadi di jalan ban motor gue bocor. Ke bengkel dulu tadi. Maaf ya. Lagian lo gue bbm pending.”
“Lowbatt, gak bawa charger. Sorry...”
“Lucky you, punya teman seperti gue yang siap membantu lo di kala susah senang. Gimana, laptopnya bawa kan?”
“Bawa, tadi sempet gue nyalain terus tiba-tiba mati. Sekarang gue serahkan sepenuhnya sama lo sebagai dewa penyelamat gadget gue. Pusing gue sama ini laptop. Nyerah!”
“Sip lah beres. Nanti gue benerin. Eh, berangkat sekarang yuk. Sudah mulai mendung nih.”
“Yuk. Awas kalau ngebut.”
“Sip, bos. Kalau takut, peluk aja. Rugi, rugi deh gue.”
“Hih!”
Ku peluk tas ku dengan erat.
Tangerang, 14 Oktober 2012.
Saturday, October 20, 2012
Sama namun berbeda
Di
suatu sore di teras rumahku, kau pernah bilang, dan akupun menyetujui.
"Kita sama-sama sulit mendapatkan yang kita inginkan..."
Kau
beranalogi,
Itu
seperti ketika...
Aku
menyukai sepasang sepatu yang kulihat di sebuah toko. Sepatu coklat berbahan
kulit dengan hak kayu 5cm.
Pertama
kali melihat, sinyal untuk memiliki begitu kuat, namun kesanggupan finansial
ternyata belum siap. Tanggal 25 belum mendekat.
Kuurungkan
niatku. Sepatu itu hanya mampu ku tatap penuh harap.
Sesampainya
di rumah, sepatu itu pun terus mencuri perhatian setiap waktu, sampai
mengganggu tidurku.
Tak
bisa ditawar lagi, sepatu itu harus kumiliki!
Semua
daya upaya kukerahkan untuk mendapatkannya. Aku siap memiliki sepatu yang
kuidamkan. Yang paling ku inginkan. Yang menyita waktu dan perhatian.
Aku
kembali datang ke toko itu. Namun seketika kecewa. Sepatu itu sudah tidak ada.
'Sudah laku' kata penjualnya.
Namun
aku tetap ingin itu, yang seperti itu. Sama bentuk, rupa, material dan bahannya.
Semuanya harus sama.
Aku
mencari, terus mencari.
Kemudian
akhirnya mendapat yang ku inginkan.
Sepatu
coklat berbahan kulit dengan hak kayu 5cm.
Namun
di toko yang berbeda.
Itu
bukan sepatu yang pertama kali ku lihat. Sama bentuk, rupa, material dan
bahannya. Tapi berbeda.
Apa
aku benar-benar mendapatkan yang aku inginkan? Tidak sepenuhnya.
"Kita sama-sama sulit mendapatkan yang kita inginkan. Butuh usaha
berkali-kali lipat dibanding kebanyakan orang. Walau pada akhirnya dapat, tidak
selalu persis sama. Bisa mirip atau sama sekali berbeda."
"Sama sepertimu. Aku ingin kamu, begitu pun sebaliknya. Percayalah,
pada akhirnya kita akan mendapatkan yang kita inginkan. Tidak pasti sama, tidak
harus sama. Mungkin kau akhirnya mendapatkan yang sepertiku. Sama sepertiku.
Tapi mungkin bukan aku."
Inspirasi (?)
Apa (atau mungkin siapa) yang menjadi inspirasi terbesarmu?
Inspirasi yang tidak hanya membuat hatimu tergugah, tapi juga membuatmu menghasilkan 'sesuatu'.
Dibanding 'siapa', mungkin saya lebih setuju dengan 'apa'.
Apa yang menjadi inspirasi terbesar saya?
Rasa. Ya, rasa.
Rasa yang bermacam-macam. Seringkali, rasa yang berlebih yang paling menginspirasi saya.
Rasa yang berlebihan. Rasa yang terlalu. Kadang, keterlaluan.
Rasa terlalu senang, terlalu sedih, terlalu cinta, terlalu sakit.
Kamu pernah, merasakannya?
Rasanya seperti ini. Seperti yang saya rasakan sekarang.
Rasa yang terlalu itu selalu menimbulkan efek.
Analoginya seperti ini: Garam yang terlalu banyak, memicu darah tinggi. Gula yang terlalu banyak, memicu diabetes.
Lalu rasa terlalu sakit ini apa efeknya?
Mungkin, itu alasan yang memicu saya yang terinspirasi untuk menulis sebuah blog post malam ini. :)
Selamat malam.
ps: tulisan ini sudah lama di tersimpan di draft tetapi baru sempat di publish. :)
Monday, March 19, 2012
A Home Away From Home
"Kadang, kita menemukan rumah justru di tempat yang jauh dari rumah itu sendiri. Menemukan teman, sahabat, saudara. Mungkin juga cinta.
Mereka yang memberikan rumah itu untuk kita, apa pun bentuknya."
-Life Traveler, Windy Ariestanti
Saya teringat bagaimana rasanya saat hari pertama bekerja di perusahaan pertama tempat saya bekerja. Kurang lebih empat setengah bulan yang lalu.
Deg-deg-an.
Selalu ada rasa yang beragam saat memulai sesuatu yang baru.
Grogi, senang, takut, penasaran.
Saya ingat, saat masih sekolah, hari pertama masuk ke jenjang sekolah yang baru selalu membuat saya bersemangat sekaligus khawatir.
Apakah teman sebangku saya nanti menyenangkan? Apakah saya akan mempunyai banyak teman?
Kontradiktif. Senang tapi takut. Penasaran tapi khawatir.
Dan semua ketakutan dan kekhawatiran itu akan hilang seiring dengan berlangsungnya proses...
Adaptasi? Yes.
Pada beberapa orang, proses tersebut dapat berlangsung cepat. Dan sayangnya, pada saya pribadi, proses itu memakan waktu yang tidak sebentar.
Saya, seorang fresh graduated yang belum mempunyai pengalaman kerja kecuali magang, setelah 3 setengah bulan luntang-lantung mengikuti belasan psikotes, interview, dan rangkaian seleksi penerimaan pegawai, akhirnya merasakan juga "hari pertama sebagai pegawai suatu perusahaan".
Legaaaaaaaaaaa.
Akhirnya dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan "Udah lulus ya? Kuliah lagi atau kerja? Oh, kerja dimana?" tidak lagi dengan perasaan tertekan.
Dan kalau tidak sengaja bertemu adik kelas di jalan, dengan bangganya pasang muka udah-kerjaaaaaa-looooohhh-sekaraaaaaaang.
Keren ya? Oke? Sip.
Balik lagi ke adaptasi.
Dimulai dengan berkenalan dengan partner kerja di kantor di berbagai divisi, berkenalan dengan bos, bosnya bos, bosnya bosnya bos, dan mulai kesulitan menghafal nama seperti biasa.
Mendapat kalimat "Selamat Datang!" dengan perasaan luar biasa. That was such a great feeling.
Lalu apa yang dilakukan setelah berkenalan?
Pastinya ngobrol-ngobrol standard dulu dong. Nama panggilan, tempat kuliah, jurusan, tempat tinggal, hobi, warna kesukaan, makanan kesukaan, artis favorit, patas favorit. Yaaaa, sekalian promo isi CV.
Setelah kehabisan bahan obrolan standard??
Semua kembali ke kerjaan masing-masing. Sibuk sibuk sibuk.
Dan saya yang belum mendapat tugas apapun, juga sibuk mencari "pick-up line" untuk mengajak ngobrol mas/mbak yang terlihat tidak terlalu sibuk untuk diajak sibuk-sibuk ngobrol bersama saya yang tidak sibuk. #rumit
Kalau kehabisan bahan, pasrah nunggu diajak ngobrol duluan.
Satu jam...
Dua jam...
...
Empat jam kemudian, saya resmi bosan sodara-sodara.
Bila tidak ingin disebut resmi, baiklah, saya akan bilang, "Mamaaaaaah akuu beteeeeeee".
Begitu rasanya. Awalnya grogi, penasaran, takut, lalu senang, terus bete.
Tapi jangan salah duga dulu, setengah hari setelahnya, tanpa dinyana-nyana saya sudah merasa sangat nyaman.
Dua hari setelahnya, sepulang kerja saya selalu memikirkan,
"Asiiiiiiik besok ngantor lagiiiiiiiiihhhhhhh". :D
Serius.
Suasana kantor yang seperti ini tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Kekeluargaan! Itu kesan pertama yang saya dapat.
Tidak seperti kantor-kantor lain yang kaku antara karyawan dan atasan.
Di sini, seakan tidak ada batasan. Ya itu, seperti keluarga.
Mungkin karena kebersamaan mereka yang 'lebih' dibanding dengan kantor lainnya, mungkin ya.
Bagaimana tidak, jika pada perusahaan lain jam kerja normal adalah pukul 8 - 5 sore, jam kerja di sini memang kurang 'normal'.
Weekend pun sebagian besar dihabiskan di kantor. Bermalam di kantor sudah hal yang biasa.
Memang benar-benar seperti rumah yang kedua.
♥
Can I said that I love you all so damn much??
Saya merasa menjadi "saya" yang sebenarnya. Baik itu Daus, Dida, Firda, atau Okta. Senang dan nyaman, itu yang saya rasakan.
Oh iya, saya baik-baik saja.
Saya tetap Daus yang bader dan mudah ge-er-an.
Daus yang mudah menguap saat dijelaskan sesuatu yang rumit dan panjang.
Daus yang gampang bosenan dan mondar-mandir kalau tidak ada kerjaan.
Daus yang mudah ngembeng dan kadang sensian.
Saya tetap Daus yang sok prinsipil dan tidak akan merebut sesuatu yang bukan hak saya.
Saya tetap Daus yang kalian dulu kenal. Kalaupun ada yang berubah, I think it's normal. :)
Terima kasih untuk semua ilmu yang kalian share, juga pelajaran hidup yang kalian ajarkan. :')
Kalian semua pribadi-pribadi luar biasa, dengan segala keistimewaan yang selalu membuat saya merasa 'terlanjur' betah.
Pak Dudi, Pak Budi, Pak Ustadz, Mas Andri, Mas ade, Mas Ronald, Mas Agus, mas Firman, mas aQeent, Mas Purna, Fadhil, Mas Rama, Mas Irham, Mas Haris, Pak Iwan, Mas Ijal, Mbak Ajeng, Mbak Budi, Mbak Ika,Mbak Yati, Ade, Devi dan Iis, juga seluruh tim Diknas 2; QC Dokumen, QC MP, QC DE, DE, foto, Adops, GIS, SDM, yang tidak bisa saya sebutkan satu-persatu. Terima kasih yang tak terhingga. Kebersamaan dengan kalian akan selalu saya ingat.
Semoga silaturahmi kita tetap terjaga. :')
Sekarang, beberapa waktu lagi saya akan merasakan kembali rasanya "hari pertama". Kembali masuk ke lingkungan baru bertemu orang-orang baru pula. Dan lagi, adaptasi akan menemani hari-hari saya ke depan.
Akankah saya akan menemukan 'rumah' dan keluarga baru yang sama menyenangkannya?
Semoga. :')
Saturday, February 25, 2012
Pegawai?
Setiap berbincang-bincang tentang PNS dengan ayah saya, setiap itu pula kami beradu argumen.
Ayah saya selalu menginginkan saya untuk menjadi pegawai negeri. Alasannya, apalagi kalau bukan karena kepastian dan rasa ‘aman’ yang ditawarkan.
Kalau jadi PNS pekerjaannya tidak terlalu sulit jadi bisa begini, kalau sudah habis masa tugas alias pensiun nanti begitu.
Bla bla bla.
Kalau. Kalau. Kalau.
Ya, saya lahir dari kedua orang tua yang berstatus sebagai pegawai swasta. Ibu saya bekerja sebagai dosen di universitas swasta.
Sedangkan ayah saya, seorang pekerja swasta lebih dari 30 tahun masa kerja diberbagai perusahaan lokal maupun asing di bidang piping, mining, and gas.
Pengalamannya tidak usah diragukan lagi. Ia sangat berjaya di masa mudanya.
Berpenghasilan cukup besar dengan konsekuensi besar pula. Dinas berbulan-bulan di luar kota ataupun luar negeri tanpa bisa bertemu dengan keluarga tercinta. Begitulah perjuangan ayah saya demi memastikan agar saya mendapatkan gizi yang cukup selama masa pertumbuhan dan selalu minum susu setiap pagi sebelum berangkat sekolah.
Saya tidak perlu memikirkan hal-hal sulit lain, tugas saya hanya belajar.
Titik.
Sebagai anak tunggal, saya hampir selalu mendapatkan yang saya inginkan meski tetap harus berjuang.
Saya bisa mendapatkan sepeda baru asal semester ini rangking satu.
Saya bisa memiliki mainan baru jika minggu ini saya membantu ibu mengoreksi hasil ujian tengah semester. Saya terbiasa seperti itu.
Untuk mendapatkan apa yang saya inginkan, perlu perjuangan. Tidak bisa instan. Kecuali mie yang biasa saya makan.
Pegawai negeri sipil atau PNS, menjanjikan rasa ‘aman’ yang selama ini tidak didapatkan oleh orang tua saya.
Setidaknya, itulah yang sering mereka ungkapkan.
Pada masa hampir pensiun seperti sekarang, ayah saya tidak memiliki kepastian tentang bagaimana pendapatannya di masa tua nanti.
Tunjangan hari tua, atau uang pensiun.
Itu kata kuncinya.
PNS ataupun pegawai swasta, sebenarnya sama-sama bisa memiliki ‘kepastian’ di hari tua.
Bedanya, tunjangan hari tua PNS dipersiapkan oleh pemerintah, sedangkan pegawai swasta dituntut untuk mempersiapkan sendiri.
Dan orang tua saya, tidak menyiapkan hal itu.
Lalu apa yang salah dengan PNS? Kenapa saya saya sama sekali tidak tertarik untuk menjadi PNS?
Baiklah. Panggil saya sok tau, sok idealis, atau apalah terserah.
Tetapi bagi saya, impian saya jauh lebih besar dari itu. Saya termasuk orang yang mudah bosan. Saya menyukai hal-hal menarik.
Buat saya, pekerjaan pegawai negeri sipil tidak menarik sama sekali.
Saya tidak membayangkan akan melakukan pekerjaan yang itu-itu saja sampai tiba masa pensiun. Bagaimana dengan impian saya untuk berkeliling dunia khususnya Eropa?
Bagaimana dengan cita-cita saya untuk hidup tenang di masa tua tanpa memikirkan apakah bulan depan gaji saya naik, atau bagaimana agar uang pensiun dapat cukup untuk kebutuhan sehari-hari.
Saya tidak ingin sebagian hidup saya dihabiskan untuk mencari uang. Uang yang harusnya bekerja untuk saya. Make my own money, from my own business.
Terdengar sempurna sekali, ya?
Apakah saya sudah melakukan sesuatu untuk mencapai impian saya tersebut?
Jujur, belum banyak langkah berarti. Saya masih nyaman dengan pekerjaan saya sekarang.
Namun saya berjanji dalam hati agar mempersiapkan hari tua sejak sekarang.
Bila ada teman yang bertanya apakah saya benar-benar tidak tertarik untuk menjadi PNS, saya dengan lantang akan menjawab ‘tidak!’.
Namun bila ada teman yang memberi tahu info bahwa seleksi penerimaan pegawai negeri sipil telah dibuka, saya akan bertanya,
“Kementrian Luar Negeri sudah membuka lowongan, belum?” ;)
Sekian dan terima gaji bulan ini. :3
Sunday, October 2, 2011
Stop believe what you see. Start analize.
Stop believe what you see. Start analize.
Gue pernah nge-twit kalimat ini. Gue gak ngarang sendiri, tapi gue gak inget baca dari mana.
And I do believe with that sentence. Kebanyakan orang saat ini (which means gak semua) langsung menelan mentah-mentah apa yang dia lihat. Langsung saja memercayainya tanpa menganalisa terlebih dahulu.
Tampaknya memang pilihan untuk langsung menerima bulat-bulat semua informasi yang beredar lebih mudah ketimbang mesti repot-repot berpikir.
Tahu sendiri kan, zaman sekarang semua orang suka yang instan. Gak pakai repot.
Tampaknya memang pilihan untuk langsung menerima bulat-bulat semua informasi yang beredar lebih mudah ketimbang mesti repot-repot berpikir.
Tahu sendiri kan, zaman sekarang semua orang suka yang instan. Gak pakai repot.
Gue sendiri sebenarnya juga termasuk tipe yang ini, yang gue sebutin di atas tadi.
Bedanya, gue percaya bukan karena gue malas berpikir. Gila aja kalau mikir aja gue males, terus otak ini buat apa coba kalau bukan buat mikir, ya gak?
Itu semua lebih disebabkan gue termasuk orang yang mudah percaya, sedikit. Gue gak terlalu yakin juga sih kalau gue orangnya gampang percayaan, makanya gue masih nulis pembelaan barusan.
Gue orang yang ‘sedikit’ mudah percaya sama orang. Tapi bukan berarti gue mudah ditipu. Kalau dipikir-pikir kalimat gue barusan itu kontradiktif ya?
Bedanya, gue percaya bukan karena gue malas berpikir. Gila aja kalau mikir aja gue males, terus otak ini buat apa coba kalau bukan buat mikir, ya gak?
Itu semua lebih disebabkan gue termasuk orang yang mudah percaya, sedikit. Gue gak terlalu yakin juga sih kalau gue orangnya gampang percayaan, makanya gue masih nulis pembelaan barusan.
Gue orang yang ‘sedikit’ mudah percaya sama orang. Tapi bukan berarti gue mudah ditipu. Kalau dipikir-pikir kalimat gue barusan itu kontradiktif ya?
Back to main topic, gue mau kasih contoh simpel aja. Seperti kasus Nazarudin kemarin.
Gue termasuk orang yang termakan kata-kata Nazarudin sewaktu masih di luar negeri. Tiba-tiba gue percaya kalau ketua partai berinisial A itu persis seperti yang dikatakan Nazarudin. Dan anggota keluarga gue pun kompak ikutan percaya.
Mungkin karena satu gen kali ya, jadi sifat di keluarga gue kurang lebih sama lah.
Padahal sampai sekarang pun, ucapan Nazarudin itu belum ada yang bisa dibuktikan. See? Gue gampang percaya kan? Tepatnya sih gue bukan percaya pada apa yang dikatakan Nazarudin, tapi oleh kata-kata yang diucapkan oleh para pengamat politik yang sekarang makin bebas menyampaikan pikirannya di media.
Wuih, mantep ya media sekarang. Mau ngomong apa aja bebas.
Kebebasan media berkomentar ini yang punya pengaruh besar buat orang-orang seperti gue.
Belum lagi makin marak acara semacam talkshow antara para wakil rakyat dengan perkumpulan pengacara. Pasti pada tau lah acara ini. Gue termasuk orang yang mengikuti acara ini sebelumnya.
Seru sih awalnya, tapi kok lama-lama nonton acara ini jadi boring juga. Sang wakil rakyat terus saja memberi pembelaan, yang kadang suka tidak masuk akal.
Sementara sisi pengacara selalu mencari celah untuk membuat sang wakil rakyat skak-mat. Intinya sih, salah-salahan. Masing-masing pihak mencari mana yang salah.
Loh? Terus penyelesaiannya mana? Mereka kan orang-orang yang ‘cukup’ ahli dibidangnya. Masyarakat gak butuh adu bacot kalian. Kita butuh solusi. Period.
Gue termasuk orang yang termakan kata-kata Nazarudin sewaktu masih di luar negeri. Tiba-tiba gue percaya kalau ketua partai berinisial A itu persis seperti yang dikatakan Nazarudin. Dan anggota keluarga gue pun kompak ikutan percaya.
Mungkin karena satu gen kali ya, jadi sifat di keluarga gue kurang lebih sama lah.
Padahal sampai sekarang pun, ucapan Nazarudin itu belum ada yang bisa dibuktikan. See? Gue gampang percaya kan? Tepatnya sih gue bukan percaya pada apa yang dikatakan Nazarudin, tapi oleh kata-kata yang diucapkan oleh para pengamat politik yang sekarang makin bebas menyampaikan pikirannya di media.
Wuih, mantep ya media sekarang. Mau ngomong apa aja bebas.
Kebebasan media berkomentar ini yang punya pengaruh besar buat orang-orang seperti gue.
Belum lagi makin marak acara semacam talkshow antara para wakil rakyat dengan perkumpulan pengacara. Pasti pada tau lah acara ini. Gue termasuk orang yang mengikuti acara ini sebelumnya.
Seru sih awalnya, tapi kok lama-lama nonton acara ini jadi boring juga. Sang wakil rakyat terus saja memberi pembelaan, yang kadang suka tidak masuk akal.
Sementara sisi pengacara selalu mencari celah untuk membuat sang wakil rakyat skak-mat. Intinya sih, salah-salahan. Masing-masing pihak mencari mana yang salah.
Loh? Terus penyelesaiannya mana? Mereka kan orang-orang yang ‘cukup’ ahli dibidangnya. Masyarakat gak butuh adu bacot kalian. Kita butuh solusi. Period.
Well, kalau gue analisa sih. Gue termasuk mudah percaya terhadap sesuatu kalau gue tidak begitu paham dengan bidang tersebut. Beda jika gue diberi pendapat tentang sesuatu yang bidangnya gue kuasai, gue akan mempertahankan mati-matian apa yang gue percaya sebelumnya sejauh gue punya dasar terpercaya yang bisa dijadikan tumpuan argumen gue.
Dan pada contoh yang gue sebutkan di atas; yaitu politik, jelas gue gak punya dasar apapun tentang politik. Sama sekali buta. Sama seperti masyarakat biasa di luar sana yang mudah percaya terhadap berita-berita yang beredar.
Kita tidak tahu mana yang benar mana yang salah. Mana yang bisa dipercaya mana yang tidak.
Dan pada contoh yang gue sebutkan di atas; yaitu politik, jelas gue gak punya dasar apapun tentang politik. Sama sekali buta. Sama seperti masyarakat biasa di luar sana yang mudah percaya terhadap berita-berita yang beredar.
Kita tidak tahu mana yang benar mana yang salah. Mana yang bisa dipercaya mana yang tidak.
But hey! Sekarang masyarakat sudah pintar kok. Jauh lebih pintar.
Di awal tulisan ini gue bilang banyak yang masih suka menelan mentah-mentah apa yang mereke lihat dan dengar. Tetapi orang yang tidak langsung percaya dan menganalisa terlebih dahulu informasi yang diterimanya itu jauh lebih banyak!
Sama seperti dengan membaca tulisan ini, harus dianalisa terlebih dahulu benar atau tidaknya. Jangan langsung percaya ya. J
Di awal tulisan ini gue bilang banyak yang masih suka menelan mentah-mentah apa yang mereke lihat dan dengar. Tetapi orang yang tidak langsung percaya dan menganalisa terlebih dahulu informasi yang diterimanya itu jauh lebih banyak!
Sama seperti dengan membaca tulisan ini, harus dianalisa terlebih dahulu benar atau tidaknya. Jangan langsung percaya ya. J
Salam,
Ps: Aduh gue rasa keyboard gue jalan sendiri. Kalau kata-kata gue ada yg salah maap-maap aja ya. And so sorry this post i made in bahasa. Muahaaahaa :p
Friday, September 16, 2011
Giveaway giveaway
Hoaaaa this is the first time I attended giveaway. :)
Define Your Up! Held by Clara Devi :))
Oh Gosh... it just like a dream. I really really want UP Shoes by Diana Rikasari... >.<
You can join this giveaway too and win a pair of your favorite UP Shoes! How lovely... <3
Which Up are you?
I choose Tree Brown! I just loooveee the color and the ultra-simple design. ♥ ♥ ♥ I'm imagining Tree Brown in my feet now. I'm serious. ;)
Go visit http://www.luce-dale.com/2011/09/giveaway-define-your-up.html read and follow the term and condition.
Goodluck! :D
Ps: Pic from iwearup.com and http://www.luce-dale.com/
Define Your Up! Held by Clara Devi :))
Oh Gosh... it just like a dream. I really really want UP Shoes by Diana Rikasari... >.<
You can join this giveaway too and win a pair of your favorite UP Shoes! How lovely... <3
Which Up are you?
I choose Tree Brown! I just loooveee the color and the ultra-simple design. ♥ ♥ ♥ I'm imagining Tree Brown in my feet now. I'm serious. ;)
![]() |
| It's too good to be true :') ♥ |
Go visit http://www.luce-dale.com/2011/09/giveaway-define-your-up.html read and follow the term and condition.
Goodluck! :D
Ps: Pic from iwearup.com and http://www.luce-dale.com/
Subscribe to:
Posts (Atom)





